Membaca Membuka Cakrawala, Membangaun Peradaban Dunia

Friday, May 6, 2016

HUJAN SANG PEMBANGKIT MASA LALU

“Sebagai pelengkap siklus peredaran air di bumi, hujan memancarkan aroma yang khas. Aroma ini menyebabkan si penghirup serasa bernostalgia ke masa lalu”.

Aku selalu bahagiah saat hujan turun. Karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri. Aku bisa tersenyum sepanjang hari karena hujan pernah menahanmu di sini untukku. Begitu lirik lagu bertajuk ‘hujan’ karya band utopia. Sekilas tidak ada yang aneh dengan lirik itu, tapi penelitian telah membuktikan lirik lagu Utopia itu adalah benar secara ilmiah. Bagaimana hujan bisa mengingatkan seseorang tentang suasana nostalgia? Bukankah hujan hanya sekedar tetesan air yang jatuh dari langit?
 

Menjawab pertanyaan di atas memang tidak mudah. Terlebih pertanyaan  tersebut sangat tendensius mengingat Indonesia mengalami dampak E1 Nino terparah setelah tahun 1965 dan 1998. Udara panas disertai semakin terbatasnya air tanah menambah derita masyarakat Indonesia. Belum lagi masalah asap akibat terbakarnya hutan dan lahan di sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan yang menambah harapan masyarakat Indonesia akan turunnya hujan dengan intensitas yang cukup.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), hujan diartikan sebagai titik-titik air yang berjatuhan dari udara karena proses pendinginan. Hujan merupakan peristiwa yang mesti terjadi di bumi karena hujan sangat terkait dengan ketersediaan air di planet bumi.


Proses awal turunnya hujan dimulai dengan teriknya matahari yang menyinari bumi. Energi dari sinar matahari mengakibatkan terjadinya penggumpalan air laut, samudra, danau, sungai, dan sumber lainnya. Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa dalam satu detik, terdapat setidaknya 16 juta ton air yang menguap dari bumi. Uap-uap air yang naik kapada ketinggian tertentu lalu mengalami peristiwa yang dinamakan kondensiasi. Kondensiasi merupakan proses terjadinya uap air atau benda berwujud gas menjadi bentuk cair. Kondensiasi uap air ini kemudian menggumpal di udara dan membentuk awan. Setelah berbentuk awan menyebar ke wilayah-wilayah tertentu.
 

Saat sebelum hujan turun ke bumi, uap air yang menggumpal menjadi awan mengalami proses Koalensi. Proses koalensi adalah proses di mana uap air menggumpal menjadi satu dan semakin membesar akibat turbulensi udara. Setelahnya, uap air yang tergabung tertarik gaya gravitasi bumi dan turun ke bumi sebagi hujan .

Dalam situs pengertianku.net, hujan yang sampai ke bumi tidak sama jumlahnya seperti saat menggumpal di awan. Hal ini di sebabkan terdapatnya sebagian kecil butir air yang kembali menguap ke atas.

Hujan Menghidupkan Kenangan

selain siklus alamiah air di bumi, hujan juga menyebabkan seseorang memperoleh kembali ingatan serta kenangan yang pernah di alaminya. Dengan turunya hujan, tanah dan bebatuan mengeluarkan semacam senyawa yang di beri nama Petrichor

petrichor berasal dari kata petra yangberarti batu dan Ichor yang berarti cairan yang mengalir di pembuluh para dewa dalam mitologi Yunani. Dua kosakata tersebut di ciptakan oleh 2 ilmuan Australia bernama bear and Thomas pada sebuah jurnal yang terbit pada tahun 1964. Pada jurnal yang sama, bear dan Thomas menjelaskan proses terbentuknya senyawa Patrichor tersebut.

Dalam payungabu.wordpress.com di sebutkan, petrichor merupakan minyak yang di keluarkan oleh beberapa jenis tanaman tertentu pada saat kering kemudian di serap oleh tanah dan bebatuan pada saat basah. Pada saat hujan turun, air membuat tanah dan bebatuan melepaskan minyak tersebut dan membaur dengan aroma/senyawa geosmin yang merupakan aroma tanah. Aroma ini sering kita sebut sebagai “bau hujan”

Aroma alami yang di hasilkan senyawa petrichor membuat mereka yang menghirup mendapat kesan lebih rileks. Karena petrichor  muncul  ketika hujan turun, maka tidak heran ada yang beranggapan bahwa hujan mampu menghipnotis manusia untuk mengingat kembali ingatan masalalu. Terlebih mereka yang mempunyai ingatan tertentu ketika hujan turun

Sebagai seorag muslim, kita meski memegang teguh prinsip “mengingat masa lalu untuk menyiapkan masa depan”(wal tandzur nafsun ma qaddamat lighod). Sehingga wajar, apabila Allah SWT menciptakan hujan sebagai rezeki dan anugrah untuk para hambanya di bumi
 


Share:
"MEMBACA MEMBUKA CAKRAWALA MEMBANGUN PERADABAN DUNIA"

0 komentar:

Post a Comment

Ads baner

Popular Posts

Powered by Blogger.
["Hidup bukanlah tentang bagaimana menemukan diri kita tetapi bagaimana menciptakan diri kita yang sebenarnya"]["Hidup adalah serangkaian peristiwa alami dan spontan. Jangan melawan kehidupan yang hanya akan menciptakan kesedihan. Biarkan realitas menjadi kenyataan. Biarkan semuanya mengalir secara alami"]["Cobalah untuk belajar sesuatu tantang segala sesuatu dan segala sesuatu tentang sesuatu"]["Hidup adalah Kesusahan yang harus diatasi. Rahasia yang harus digali. Tragedi yang harus dialami. Kegembiraan yang harus dibagikan. Cinta yang harus dinikmati, dan Tugas yang harus dilaksanakan"]